
Penulis: Ir. Vickner Sinaga, M.M, Bupati terpilih Kabupaten Dairi 2025-2030.
JAKARTA – Kampus, salah satu hobby yang akan kutulis, jika ada form kuesioner yang harus kuisi, selain olahraga catur, tenis, golf dan menulis. Ada puluhan kampus Universitas yang sangat berkesan bagiku. Alasannya ragam, ada yang sekedar memberi kuliah umum hingga kuliah di depan kelas.
Belum lama, diawal tahun 2024 saya memberi kuliah di STT Willfinger, kampus Teologi relatif tua, di Kabupaten Nunukan, Propinsi Kaltara. Berdiri tahun 1937 di Kecamatan Krayan Induk lokasi persisnya.
Lima tahun sebelumnya, memberi kuliah umum di STT Makedonia, Ngabang, Kalimantan Barat. Di pusat pendidikan yang di inisiasi Pdt. Bigmen Sirait. Dari SD, SMP, SMU ada disana. Dua kampus ini, belum masuk kriteria di lima Perguruan Tinggi seperti judul diatas.
Dari Borneo kita bergeser ke Sumatera. Amazing, inspirasiku menulis artikel ini dipicu tulisan di depan gedung, terlihat kala jendela kubuka. Beranda kamar hotel bagus di lantai 3, berseberangan dengan Biro Rektor Universitas HKBP Nommensen, Jl. Dr. Sutomo 4A, Medan, Sumatera Utara.
Pernah dipimpin oleh dua sobatku. Rektor Ir. Rickson Simarmata kakak kelas di Prodi Listrik, Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (FT USU) dan Rektor Dr. Ir. Sabam Malau, mitra caturku, anak straat Tigalingga, Sidikalang. Ada yang lebih spesial lagi.
Aku pernah diminta oleh Ketua Prodi Elektro menjadi dosen. Mengasuh dua matakuliah, Teori Medan dan Analisa Sistem Tenaga. Berawal di Semester genap 1980, lanjut di semester ganjil 1981. Tak terasa, 45 tahun sudah berlalu. Apa cukup menarik untuk menjadi cerita? Tentu. seperti biasa, pasti adalah uniknya. Kelas “Out of The Box”.
Saat itu, belum lagi lulus kuliah S1 di FT USU. Ijazah Sarjana Muda kuraih tahun 1979. Lalu, diminta jadi Dosen setahun kemudian. Belum sarjana, bagaimana bisa? Agar lebih absah, begini kisahnya.

Ir. Johni Pane, dosen elektro FT Nommensen, menemuiku di tempat kos di hari Sabtu itu. Di kawasan Padang Bulan. Besok, hari Minggu diminta ke rumah pak Ir. Bonggas Tobing, di Tanjung Sari, ujarnya.
Esok harinya, aku menuruti pesannya.
BT : Kamu ngajar ya!
VS : Siap, pak. Jadi asisten dosen ya?
BT : Bukan, Dosen dua mata kuliah, Teori
Medan dan Analisa Sistem Tenaga.
VS : Saya kan belum Sarjana
BT : Saya tidak tanya itu
VS : Kapan mulainya pak?
BT : Besok, hari Senin.
VS : Textbook nya Apa?
BT : Tak usah pura pura tidak tahu!
Telak, aku tak mampu untuk mengelak lagi. Kuliahku memang sudah hampir selesai. Kesibukan menyusun skripsi sambil magang di Andalas Graha Hutama, konsultan milik Dr. Ir. Firman Tambun, M.Eng. Alasan lainnya, toh ada dua dosen yang belum sarjana di USU, Antony Bovill, B.Sc, dari Inggris di Prodi Elektro FT USU. Satu lagi Marsius Sitohang, di Etnomusikologi, Fakultas Sastra USU.
Di sisa waktu minggu sore itu, kupersiapkan segalanya. Semua oke, berjalan dengan baik. Penasaran, kucoba cari tahu pencetus dan proses munculnya ide “dosen tanpa gelar S1” itu. Namun, bisanya hanya sebatas menebak.
Aku Ikut kuliah di semester 6, “Konversi Energi Listrik”, dosennya Ir. Bonggas Tobing. Tiba ujian, dosen pengawas Ir. Bangsa Sitepu, meminta kami dua peserta keluar dari ruangan ujian, menjelang ujian dimulai. Ferdinand Siahaan dan aku. Bertanya apa salah kami? Dijawab, kalian sudah lulus. Lho, kan belum pernah ikut ujian, gumamku dalam hati.
Ternyata, sudah dinyatakan lulus, hasil tiga kali kuis sebelumnya. Lega, unik ya! Bahagia. Ternyata para dosen, tidak sekedar mengajar, juga mengamati potensi para mahasiswa.
Terbukti, setelah lulus dengan gelar Insinyiur Listrik, aku dan Ferdinand diarahkan melamar ke dua institusi negeri. Terbukti kemudian. Lulus diterima di BPPT pimpinan pak BJ. Habibie dan PLN Pusat. Karier kami tokcer di institusi yang terakhir.
Mengenang 45 tahun peristiwa itu, Senin sore, 27 Januari 2025, saat libur panjang, kusempatkan semedi di kampus tempatku dulu di “gojlog”. Arena yang menggemblengku menjadi enjiniir tangguh. Berfoto, didepan beberapa gedung yang bersejarah bagiku.
Gedung Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, saat mulai kuliah Juni 1976. Hingga lulus Insinyiur, Agustus 1981. Sidang sarjana di Aula Fakultas Teknik USU. Juga berfoto di gedung tiga lantai, tempat kuliah berlangsung, selama 5 tahun penuh. Untuk gelar profesi Insinyiur harus lulus dengan total 200 SKS.
Banyak amat ya? Kini cukup 120 SKS, namun sebatas Sarjana Teknik (ST). Butuh ragam persyaratan lagi untuk meraih gelar profesi Insinyiur Teknik.
Aku termasuk lulusan tercepat masa itu. Dikurun waktu 1965 -1981, sepanjang enam belas tahun. Ragam kisah unik, akan dikisahkan berikutnya. Kudedikasikan buat Ir. Bonggas Tobing, Ir. Johni Pane, Ir. Rickson Simarmata dan sobat satu angkatan Ir. Ferdinand Siahaan.
Cinere, Selasa 28 Januari 2025. Mohon jangan dianggap “flexing”, sungguh kisah ini orisinil, apa adanya, semoga menginspirasi.
Terima Kasih kampus tercinta. Mohon doa restu agar langkahku lancar menapaki karier kedua, melayani di bidang yang lebih luas lagi. Berbekal tambahan, S2 Strategic Management, di kampus “gemblengan ekstra”, kawah candradimuka Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta. (*)