HomeINSPIRASILima Kampus Utama Menggemblengku Dan Lahan Pelayananku (Penutup)

Lima Kampus Utama Menggemblengku Dan Lahan Pelayananku (Penutup)

Penulis: Ir. Vickner Sinaga, M.M, Bupati terpilih Kabupaten Dairi 2025-2030.

JAKARTA – Baru enam bulan kerja di PLN Gandul, dapat perintah balik ke kampus. Kami, 50 Insinyiur muda PLN dari berbagai PTN dan PTS digembleng 4 bulan di ITB, Bandung. Proyek kerjasama PLN, ITB, EDF Perancis. Dosennya banyak praktisi dan ilmuwan hebat. Ujian akhir, mempertahankan paper didepan para dosen penguji. Beroleh sertifikat “Baik Sekali”. Dosen penguji Dr. Ir. KT Sirait, Ir. Sudibyo M Sc., bos Encona dan Dr. Parouli Pakpahan.

Sarat ilmu, bak insinyiur plus, dari kampus teknik paling tua ini, balik ke PLN Gandul. Ada kampus lain memanggil. Universitas Pakuan Bogor. Diminta mengajar dua mata kuliah, baik semester ganjil maupun genap. Dari tahun 1983 hingga 1996.

Empat belas tahun, setop karena kurang waktu. Aktifitas selaku Kepala Proyek SUTET di PLN sangat padat. Area proyeknya seluas Pulau Jawa. Sebagai dosen pembimbing dan penguji masih tetap, terutama di ISTN, Jakarta.

Peran kerja sambil dosen, bermanfaat ganda. Mengapa? Berbeda dengan negara maju, kemajuan teknologi di Indonesia, ada di luar kampus. Teknologi baru ini perlu dibawa ke kampus. Banyak ilmu baru, yang masih belum muncul di textbook. Benefit bagiku, kompetensi individu meningkat.

Terakhir para insinyiur dari negeri jiran, TNB Malaysia, seminggu training di PLN. Saya salah satu fasilitatornya. Peran di Universitas Negeri ada juga, Pembicara dalam rangka lustrum di Universitas Diponegoro. Hingga akhir dekade, menjelang awal millenium, kembali ke kampus lagi.

Kali ini beda, bukan dosen tapi mahasiswa. Lewat test tiga hari, diterima menjadi mahasiswa pascasarjana Universitas Prasetiya Mulya, selanjutnya kusebut Prasmul.

Beruntung karena dari 50 an, hanya diterima 5 peserta test. Jadi perlu 10 sesi test agar genap 50 mahasiswa satu angkatan. Tak perlu test TOEFL, karena materi ujian dalam bahasa Inggris. Menurut survey Asian Wall Street Journal, Prasmul saat itu sekolah bisnis terbaik se Asia Tenggara.

Program MM Srategic Management, kelas Eksekutif, enam trimester. Masa kuliah tiga tahun, bukan dua tahun seperti di PT lainnya. Kuliah total 50 SKS, namun ada ekstra 6 mata kuliah bernilai nol SKS. Tapi harus lulus. Ini membuat alumninya unggul dan lebih profesional. Apa indikatornya? Lulusannya sudah diterima bekerja, rata-rata 45 hari sebelum lulus. Di posisi strategis institusi atau perusahaan.

Atau usaha milik sendiri yang berpenghasilan wah. Contohnya, Githa Nafeeza, CEO dan founder Shabu Hachi, mantan presenter Metro TV, adik kelas jauh. Sedang Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, dua tahun kakak kelas. Rektornya? Prof. Djisman Simanjuntak, ekonom kesohor, alumni Jerman itu.

Kuliah di Prasmul, sangat menguras fisik pun pikiran. Tugas pribadi, tugas kelompok berjibun. Satu mata kuliah bisa tiga dosennya. Masuk 1998, lulus 2001. Tepat waktu, pas di awal milenium itu promosi menjadi Deputi Operasi PLN Proyek Induk Kalimantan, kantor induknya di Balikpapan.

Lagi enak kerja, ditugaskan kursus GM selama empat bulan di Jakarta. Termasuk dua minggu Outbound di kampus BIO, Bangka terkenal itu.

Gemblengan fisik dan mental, kelas raiders. Tiga tahun, lanjut promosi menjadi GM di unit yang sama. Wilayah kerja se-Borneo, membuat total enam tahun tak sempat sinergi dengan kampus. Dari Borneo kembali ke Jakarta.

Aturan saat itu, konon jabatan GM dibatasi tiga tahun maksimal. Ditarik jadi staf ahli direksi di PLN Pusat. Tugasnya banyak, mengatasi Krisis Listrik di Sumatera Bagian Utara. Berkantor di gedung C, milik PLN di Jl. Jos Sudarso.

Flight Soetta – Polonia, rutin mingguan dengan pesawat Lion Air tipe MD panjang itu. Paralel, Ketua Pemulihan Gangguan Tower Transmisi se-Indonesia dan Ketua Tim Desain Sistem Listrik Sumatera. Hingga di tahun 2009, promosi menjadi Eksekutif Vice Presiden Listrik Swasta.

Tak sampai setahun, menjadi Direktur Operasi PLN Indonesia Timur. Daerah kerjanya dari laut Natuna hingga Merauke dan dari Miangas hingga Rote. Melayani 73 persen NKRI, lima tahun penuh.

Di dua jabatan terakhir, mitra bisnis di Indonedia Timur, antara lain Jusuf Kalla, Erwin Aksa, Dahlan Iskan. Juga grup usaha pak LBP, Adaro dan Sandiaga Uno. Di Jawa dan Sumatera dan banyak lagi.

Selaku Direktur di PLN, tugasku memastikan listrik mengalir 24 jam di ratusan kota, di Indonesia Timur. Plus tugas ekstra, menjadi Dean atau Dekan Fakultas Energi Terbarukan, PLN Corporate University, Kampus Maros di Makasar.

Bahagia melihat jebolannya mampu mendesain, membangun dan merawat ratusan pembangkit energi terbarukan. Ada Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan Pusat Listrik Tenaga Minihidro dan Mikrohidro. Lewat training, enjiniir dan teknisi lokal Papua, mampu mengatasi masalah teknis lokal. Tak perlu lagi ahli dari Jawa.

So..Kampus Universitas Prasetiya Mulya, Kampus Fakultas Energi Terbarukan, Maros, Makasar, melengkapi tiga kampus terdahulu menjadi lima kampus gemblengan dan pelayanan berkesan bagiku.

Kudedikasikan buat para rekan kuliah di Universitas Sumatera Utara. Juga buat para dosen di Universitas Prasetiya Mulya, mentor kami hingga jadi eksekutif tangguh. Civitas Academica Universitas HKBP Nommensen, Universitas Pakuan, Bogor dan PLN Corporate University.

Ku tulis di Jakarta, Kamis 05 Februari 2025, hadiah khusus buat puteriku Christine Fransiska, ST. MM. Alumni Teknik Sipil ITB dan Magister Manajemen Binus University yang sedang berulang tahun. I’m proud of you. lkut Program S2 biaya sendiri, disela-sela bekerja penuh waktu sebagai Manajer di PLNE. Sambil juga mengasuh dua putera yang masih pra remaja.

Artikel ini jauh dari “flexing” murni referensi akademis. Wujud hormatku buat para sosok berjasa. Terlebih jika bisa memotivasi dan inspirasi bagi para junior. (*)