HomeINSPIRASIMelampaui Hubungan Kekerabatan (Lobi sian Parhahamaranggion)

Melampaui Hubungan Kekerabatan (Lobi sian Parhahamaranggion)

Penulis: Ir. Vickner Sinaga, M.M, Bupati terpilih Kabupaten Dairi 2025-2030.

DAIRI – Empat hari berlalu, ingin rehat dulu. Komunikasi dengan Prof. Mauly Purba, menggodaku untuk menulis seri 4 artikel bersambung terkait kampus tersebut. Nuraniku berkata, tidak. Ganti topiklah. Jalan tengahnya berdamai.

Kukutip saja sepenggal dari catatan sang professor. Pengiriman paduan suara USU dibatalkan Rektorat, biaya terlalu mahal. Untuk tiket sekali jalan saja tak cukup. Ada 50 an peserta, pelatih dan pendamping. Galaunya peserta, diinfokan ketua kontingen di grup W/A alumni USU Jakarta.

“Lanjut saja. Nama besar USU dipertaruhkan. Infokan Rektorat, ada “last resort”, menutup kekurangannya,”ujarku.

Terbang ke Medan memompa semangat yang sudah loyo. Ikut memoles teknis persiapannya. Kontingen pun terbang, seharian Medan – JKT – Makasar – Monokwari. Kontingen terkaget. Alumni USU Vickner Sinaga meski sudah 4 tahun pensiun dari PLN, duluan di bandara menyambut. Memfasilitasi logistik, transportasi hingga rekreasi ke pulau injil, Mansinam. Anggota paduan suara pesparamanas XV, Monokwari, sila respon. Kembali ke topik.

Pas mulai ngetik artikel ini, seseorang meneleponku. “Bang… kami dapat tugas ke Belanda. Urusan penyempurnaan KUHAP. Pulang rencana 01 Maret,” lanjutnya.

“Isteri ikutkah? tanyaku. “Ikut biar relax dulu paska setahun lelah mendampingi di kontestasi lalu”.

“Samalah dengan kakak,” lanjutnya.
“Paska pelantikan 20.02.25, lalu retreat 21 s/d 28 Februari 2025. Usahakan syukuran di Sidikalang tanggal 03.03.25 ya. Agar kami dari Belanda langsung ke Medan,” ujarnya.

Setuju, sambutku sambil merenung betapa keberadaanku selalu diperhatikan kerabatku yang satu ini. Kami memang kerabat dekat. Dia, empat tahun lebih muda. Namun hubungan batin kami jauh lebih dekat. Setidaknya 25 tahun terakhir. Kisahnya berikut ini.

Lulus Sarjana Hukum dari Perguruan Tinggi lokal, test masuk Kejaksaan dan lulus, Pertanda Mangihut Sinaga, SH. Ia berbakat. Berpotensi sukses berkarya di negeri ini. Tugas pertama di kantor Kejati Kaltim di Balikpapan.

Diawal 2001 itu juga, saya promosi dari Kepala Proyek Sutet Jawa, menjadi Deputi Operasi di PLN Unit Pembangunan Kalimantan. Kantor induknya juga di Balikpapan. Hari pertama di Balikpapan aku ke rumahnya. Chemistry cocok di frekuensi yang sama. Disana lah kami selama tujuh tahun saling support.

Uniknya, lanjut kami promosi di kota yang sama. Aku jadi GM, orang nomor satu di kantor induk. Dia, asintel Kejati paska menjabat Kejari Purwodadi dan Kejari Bontang. Hobby sama. Catur, tenis dan Golf. Aktif di kegiatan sosial, gereja dan adat.

Ah, bisa melankonis, mengenang masa-masa itu. Ada sesuatu yang unik. Adikku Mangihut Sinaga, SH.MH., seakan dikirim Yang Kuasa, mendahuluiku ke Borneo. Menyiapkan jalan. Dan berlanjut, hingga kini.

Tak lama Mangihut promosi menjadi Kejari di Medan. Masa baktiku di Borneo, berakhir. Dapat penugasan sebagai Wakil Ketua Tim Penanggulangan Krisis Listrik Sumatera Bagian Utara. Lanjut sebagai Ketua, tahun berikutnya. Berkantor di Medan. Interaksi di pekerjaan dan kegiatan sosial berlanjut. Hanya pindah pulau.

Lalu, tiba waktunya Mangihut pindah tugas ke Surabaya. Lalu promosi ke eselon 2 di Kejagung, Jakarta. Tak lama, untuk ketiga kalinya, aku mengikutinya ke Jakarta. Promosi menjadi Eksekutif Vice Presiden Listrik Swasta. Lanjut menjadi Direktur di PLN.

“Aku yang jadi ketua panitia ya! ucapnya, kala puteri pertamaku dietisen, Ruth menikah dengan Iptu Budi Johanes Harahap. Selalu ingin dan tulus membantu, itu yang ada dibenaknya. Dan mendapat support dari isteri. Buat keluargaku, pun bagi sesama. Satu satunya, pemimpin keluarga besar Sinaga se Indonesia. Lima belas tahun. Dan saya didapuk sebagai penasehat sejuta lebih marga Sinaga.

Kupikir, perjalanan dua kerabat keluarga terberkati ini berakhir sudah, kala kami pensiun. Mangihut pensiun sebagai eselon satu di Kejagung. Paska mutar jadi Wakajati Sumut, Kajati NTT dan Kajati Sulut. Saya juga pensiun dari Direktur PLN. Lanjut menjadi motivator keliling NKRI. Kembali, main catur dan golf bersama, sambil guyub jika ada undangan adat.

Hingga tak sangka, partai yang sama menugaskan kami. Mangihut caleg DPR RI dari Dapil Sumut 3. Kampung halamanku Dairi, bagian dari dapilnya. Saya ditugaskan jadi caleg DPR RI Dapil Kalimantan Utara. Mangihut sukses, duduk di Senayan. Saya gagal, menembus satu diantara jatah tiga kursi di Dapil Kaltara. Sudah suratan tangan. Semua terjadi se izin Nya. Hingga..

Tiba-tiba, seseorang disuruhnya membujukku agar kembali ke Dairi. Minta bersama lagi untuk kesekian kali. Membangun Negeri. Dia tak menghubungiku sendiri, karena pasti kutolak. Masih banyak kader muda potensil, itu alasanku.

Namun tanpa dinyana, utusan partai yang sama menemuiku di Jakarta. Minta hal yang sama, Calon Bupati Dairi. Segala cara kupakai untuk menghindar. Syarafku tak sekuat dulu, nanti menghadapi berjibun masalah di lapangan. Berkeliling kucari, kubujuk para junior potensial. Semua menghindar. mengembalikan ke saya.

Aku takluk, terlebih kala putera bungsuku, meminta. “Jalani saja dulu pa, jika itu perintah Tuhan, mana bisa ditolak. Sebaliknya, jika tidak, Tuhan sendiri, akan memberi tanda”.

Untuk kesekian kalinya Mangihut berjalan di depan. Seakan tim advance, mendahuluiku kembali di Dairi, tanah kekelengan.

Kami dengan adik kita Sabam di komisi 10, akan berjuang agar Dairi mempunyai rumah sakit baru yang representatif, tutupnya, di komunikasi telepon barusan. Semoga.

Kutulis Selasa sore tanggal 11.02.25 dari Hotel Beristera Dairi. Kudedikasikan buat Drs. Sabam Sinaga, anggota DPR RI komisi 10. Badikenanta Sitepu, Ketua DPD komisi 2. Ir. Lamhot Sinaga, Wakil Ketua Komisi 7 DPR RI.

Teristimewa buat Mangihut Sinaga, SH. MH, anggota komisi 3 DPR RI. Selamat Jalan ke negeri kincir angin, Bawalah buah tangan, merapikan KUHAP, yang sudah lama butuh penyesuaian. (*)