
Penulis: Ir. Vickner Sinaga, M.M., Bupati Kabupaten Dairi 2025-2030.
DAIRI – Selamat datang bulan Maret, sekaligus bulan ramadhan, bulan penuh rahmat. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi sahabat muslim. Selamat tinggal bulan Februari, bulan terpendek namun juga penuh berkah. Seperti judul penggalan lagu “Hidup Ini Adalah Kesempatan”. Kita simak kisahnya.
Di keluarga kecil kami, tiga dari putra-putriku lahir di bulan Februari. Christine Fransiska tanggal 05, Rahel Gracia tanggal 16 dan Alfredo Waldemar (Edo) tanggal 22. Khusus Edo, angka unik, lahir 22.02.2000. Berarti tahun ini tahun 2025, usianya 25 tahun.
Tiga tanggal lahir mereka menandai bulan berkah bagi kami. Khusus tahun 2025 ini, bulan Februari kami dapat bonus. Tanggal 04 Februari sang Kepala keluarga, ditetapkan KPU Dairi sebagai Bupati Dairi. Setelah terpilih dengan suara terbanyak. Dan tanpa sanggahan dari empat paslon lainnya. Berarti tinggal menunggu hari pelantikan.
Tak disangka sebelumnya, Presiden memutuskan pelantikan dilakukan serentak. Hampir seribu orang. Gubernur dan Wakil Gubernur, Wali Kota dan Wakil Wali Kota, serta Bupati dan Wakil Bupati. Baru terjadi dalam sejarah, dilantik langsung oleh Presiden di Istana Negara. Tanggalnya dipilih 20.02.25. Pertama dalam sejarah NKRI, mungkin juga di dunia.

Paska pelantikan, tanpa jeda, langsung ke Akademi Magelang. Khusus Gubernur, Wali Kota dan Bupati, pembekalan yang didesain Kementerian Dalam Negeri. Bekerja sama dengan Lemhannas. Durasinya delapan hari. Praktis sepuluh hari terakhir di bulan Februari di isi kegiatan pelantikan dan pembekalan termasuk dua hari untuk gladi kotor dan gladi resik.
Delapan hari pembekalan (retreat), menjadi hari-hari penggemblengan, fisik dan mental. Ada hari, penuh agenda. Dari pukul 05.30 pagi hingga pukul 22.00 Wib. Senam pagi, lanjut apel pagi dan pembekalan materi di kelas. Dua hari seragam loreng komcad, sehari berpakaian Satpol PP dan lima hari seragam hitam putih dan batik.
Narasumber super lengkap. Materi teknis pemerintahan, hubungan daerah dan pusat diberikan oleh ahlinya dari Kementrian Dalam Negeri. Wawasan kebangsaan dan ketahanan negara oleh tim lemhannas. Bidang hukum mulai dari Ketua KPK, Menko Hukum dan Ham, Menteri Ham, Kapolri dan juga Kasum TNI mewakili Panglima TNI.

Seluruh Menko dan sebagian besar menteri dan wakil menteri. Arahan berupa program strategis diberikan oleh Wakil Presiden. Posisi NKRI ditengah-tengah kondisi global yang tidak baik-baik saja oleh Presiden RI ke 6, Susilo Bambang Yudoyono. Puncaknya di hari penutupan oleh Presiden RI ke delapan, Prabowo Subianto. Hampir dua setengah jam.
Salutku kepada Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, berduet dengan Wamendagri Bima Arya, yang mengemas acara begitu apik dan berkesan. Interaksi antar sesama Kepala Daerah terjalin mesra. Juga antar Kepala Daerah dengan Pemerintah Pusat. Kehadiran dua Presiden sebelumnya di parade senja, pertanda kompak menghadapi kondisi politik dan ekonomi global yang sedang bergejolak.
Sinergi regional antar kepala daerah terbentuk. Baik Gubernur dengan Bupati & Wali Kota dibawah koordinasinya. Pun sesama Bupati dan Wali Kota di region yang sama. Saya menempati tenda B3-02, bersama dua Bupati dari Indonesia Timur. Donatus SH. MH, Bupati Nagekeo mantan hakim tinggi di Surabaya. Satunya lagi dulu, anggotaku di PLN. Bupati Timor Tengah Selatan, Edward yang lebih tenar dengan panggilan akrabnya Buce. Mantan Deputi Manager Hukum dan Komunikasi PLN UID NTT.

Banyak bercengkerama karena daerah keduanya, sangat lekat di ingatanku. Bagian dari daerah kerjaku selama 5 tahun menjabat Direktur PLN Operasional Bagian Timur.
Kala senggang, kami pun sharing dengan para junior PLN yang piket di posko tak jauh dari aula Sudirman. Tempat paling sering dipakai selama acara. Kesempatan bagiku, berdiskusi dengan panitia pelaksana asal Dairi. Ada Dr. Kastorius Sinaga, staf khusus Mendagri. Juga Dr. Urkanus Sihombing, widyasuara dari Balitbang Kemendagri. Pratu Aritonang dari Tigalingga.
Bonus kudapat kala duo Ujung asal Sidikalang, mencari kami, Bupati dan Wakil Bupati Dairi. Terobati rasa kangennya disaat makan malam di hari terakhir. Satu taruna Akpol dan satu lagi taruna Akmil TNI Angkatan Laut. Bangga bertemu dengan talenta generasi muda asal Dairi untuk NKRI.

Menit menit akhir menjelang penerbangan Semarang-Jakarta, masih mendapat kejutan. Di pintu restoran besar itu, tiba-tiba muncul putriku Rahel Gracia bersama menantu Erikson Siregar. Jaksa di Demak, hanya sejam berkendara ke Semarang. Mengajakku je meja yang sudah direservasi. Namun tak jadi, apa pasal?
Seseorang menarik lenganku, “Ruangan kita disana pak”, ujarnya. Hah, Ternyata Manajer PLN UP3 Semarang plus pejabat PLN UID Jawa Tengah, sudah menungguku. Dapat perintah dari pak GM, lanjutnya. Rupanya GM PLN UID Jateng, Sugeng Purnomo, yang sedang mengawal kunjungan Presiden RI di Magelang, memerintahkan insan PLN terdekat menjamuku makan siang bersama. Hari terakhir menjelang bulan puasa.
Bisa ditebak. Masing-masing berkisah masa lalu, kala bertugas bersama di Ambon, Kupang dan Kalimantan Utara. Sharing dari senior, tentang setrum, melayanani lebih sungguh, jargonku dulu itu pun terjadi. Pamungkasnya, berupa tips penyemangat. Lengkapi diri dengan ilmu manajerial dan leadeship. Kelak jika tiba masa pensiun, alumni PLN cukup bersaing di masyarakat jika ingin berkontestasi di Pileg dan Pilkada. Kami sudah memberi contoh nyata.

Kutulis sepanjang penerbangan dari Jakarta-Kualanamu. Kuposting saat mendarat di Bandara Kualanamu Minggu pagi ini.
Kudedikasikan buat para sahabat kepala daerah yang mempersembahkan koor pujian, saat ibadah Minggu 23 Februari 2025 di Gereja Oikumene, Akademi Militer, Magelang. Sungguh terenyuh saat bersama menyanyikannya, meski koor dadakan, berjudul “Hidup Ini Adalah Kesempatan”. Dengan akhir kalimat, Bila Saatnya Nanti, Ku Tak berdaya Lagi, Hidup Ini Sudah Jadi Berkat.
Selamat Beribadah sobat Kristiani dan Selamat Berpuasa bagi sahabat muslim. (*)