
Penulis: Ir. Vickner Sinaga, M.M., Bupati Kabupaten Dairi.
DAIRI – Aku pulang, Pulang benaran. Pas sebulan, dapat amanah 20 Februari 2025. Lanjut retreat di Magelang. Menangani musibah banjir bandang secara jarak jauh (antar pulau) di tiga kecamatan. Namun secara fisik, hari Kamis tanggal 20 Maret 2025 aku hadir tengah malam di kota kelahiranku, Sidikalang, menjelang tengah malam.
Tumpukan surat sudah menunggu sentuhan. Tinggal hitungan menit sudah hari Jumat. Ya, tandatangan puluhan surat pensiun pegawai kelar dalam waktu 90 menit. Hari sudah berganti. Istirahat tidur, hanya empat jam. Saat berita duka tiba di layar hp ku. Seorang sahabat meninggal mendadak di Parongil, di usia yang masih muda..
Jumat pagi itu, berkantor sebentar, lanjut menuju rumah duka. Kupimpin ibadah singkat, ditengah tangisan isteri dan dua putra-putri yang tiba-tiba sudah yatim. Tambahan keluarga baru yang patut mendapat sentuhan, pun santunan dari pemerintah di hari-hari kedepan, pikirku. Sudah tengah hari, Camat dan Kepala Desa setempat mengajakku makan siang. Lanjut rencana kembali ke Sidikalang.
Tak jauh, di jalan antar kecamatan itu, persisnya desa Sempung Polling kami berhenti. Ada dua genangan, lebih tepat mungkin disebut kubangan. Kutelpon Kepala Desa nya, agar menguruknya paling lambat esok harinya, Sabtu. Sesudah mendapat kepastian, perjalanan lanjut. Berhenti lagi, menelepon para kepala desa. Kutemukan dua genangan air juga di desa Kentara dan dua genangan di desa Sumbul. Kedua kepala desa meyakinkanku, bahwa jalan itu sudah akan tanpa genangan keesokan harinya.

Dan…. Luar biasa, kucek Sabtu petang, enam genangan air sepanjang jalan Sidikalang – Parongil sudah rata dan levelnya lebih tinggi dari saluran dipinggirnya. Terima kasih para warga yang sudah bergotong-royong merapihkannya. Jadi, kenapa berbulan warga, kades, camat melewatinya begitu saja, tak merasa risih selama ini? Leadership. Kepemimpinan, tentu kepedulian.
Sejatinya, jalan berkubang itu sudah terisak lama, namun tak ada yang mendengarkannya. Karena tak ada yang merasa memiliki, meski tiap hari menggunakannya. Paling sebatas menulis di medsos, agar Dinas PU turun tangan. Kini tidak boleh lagi. Budaya gotong-royong warisan leluhur ternyata masih sakti. Apalagi ditengah minimnya anggaran di era spirit efisiensi.
Tiba di kantor, kuminta staf mengkonsep surat edaran untuk seluruh desa, Pemerintah Kabupaten Dairi juga sudah dan akan berperan. Hadir dengan alat berat dan personil berdedikasinya. Budaya dengan etos kerja yang baru. Target di akhir seratus hari kerja, yakni 31 Mei 2025, seluruh jalan antar kecamatan dan jalan desa sudah rata meski belum bisa beraspal sepenuhnya. Kusebut program hingga menjadi budaya baru “Jatagena”, Jalan Tanpa Genangan Air.
Secara official, surat edaran tersebut sudah ditandatangani dan di edarkan di hari kerja terakhir Maret 2025. Menjelang libur panjang. Puji Tuhan, Alhamdulilah, kini layar hp ku sudah penuh dengan kiriman foto sukacita para warga yang sedang bergotong-royong.

Kujanjikan, bahwa jika bersama kita bisa. Niat baik untuk kemaslahatan umat ini akan menjadi kenyataan. Akan tiba saatnya sebelum memasuki hari keseratus, kuyakinkan para staf terkait. Saat itu, kita buat acara pemakaman, ujarku setengah serius. Lho, apa ada yang akan meninggal lagi? Ya, akibat pembunuhan berencana, korban itu adalah Jadegena, Jalan dengan genangan air. Kita jelang era baru, Jatagena, Jalan tanpa genangan air.
Sebuah langkah kecil bernafas kepedulian, menggali kembali budaya warisan leluhur. Bergotong-royong merawat lingkungan sekeliling. Satu dari tiga program “quick win”. Dua lainnya juga sedang berjalan paralel. Mengembalikan budaya “setia kawan”. Jika masih ada yang lebih miskin ekonominya dari kita, biarlah mereka yang dapat bantuan sosial pemerintah. Kita mungkin ada di kategori susah, namun empatilah buat kaum marjinal yang lebih susah (umporsuk) dari kita.
Satu lagi, program penanaman sejuta pohon. Bukankah dulu ompung kita di usia senja masih menanam kemiri atau mangga, meski tahu bahwa mereka belum tentu sempat memanennya? Harap bersabar, dua topik ini akan di urai di artikel berikutnya.
Kutulis Jumat pagi, 04.04.25 di Cinere, sambil menunggu jemputan untuk mengunjungi instalasi penyulingan minyak nilam di Bogor. Menandatangani MOU, pengembangan kembali pertanian dan industri jenis minyak atsiri itu. Kudedikasikan buat warga Dairi dan diaspora Dairi, termasuk stakeholder. Bersama kita naik kelas yang kini ada di urutan 28 dari 33 Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Kabupaten paradoxal? Tidak lagi ya, semoga. (R)
